Endrik! Kamu Menyesal kan Pernah Membully-ku?

Pertama kali tiba di kantor tersebut, saya sudah bisa merasakan suasana yang tidak menyenangkan. Namun, awalnya saya tetap merasa hal tersebut wajar karena memang junior atau orang baru di lingkungan baru pasti kena bullyan dari para senior.

Tapi, sepertinya hal tersebut tidak berlaku untuk saya. Setelah bergabung di kantor yang bergerak di bidang pemasaran selama 2 tahun, agaknya tidak mungkin kalau saya masih mendapatkan bullyan seperti cemoohan, ejekan bahkan mereka merendahkan hasil kerja saya.

Terutama Endrik. Dia adalah rekan satu tim yang suka sekali mengadu domba. Saya merasa bahwa saya sudah melakukan pekerjaan dengan sangat baik. Tapi, ia sering sekali membolak-balikkan fakta. Dia sendiri tidak memiliki prestasi apapun, tapi atasan begitu mempercayainya karena suka mencari muka.

Karena menyadari betapa sulitnya mencari pekerjaan di jaman sekarang dan saya pun sudah terlanjur menyukai bidang pekerjaan saya, jadi saya tidak ingin meninggalkan kantor ini.

Kemudian suami saya menyarankan saya untuk menggunakan susuk pemikat dari Ning Asmara yang ia kenal melalui facebook. Ternyata selama ini suami saya sangat mengidolakan Ning Asmara karena keanggunan, kecerdasan dan kemampuannya dalam olah ilmu supranatural.

Karena memang ini saran dari suami saya, maka saya mengikutinya.

Saran dari Ning Asmara, ketika saya menggunakan susuk pemikat untuk menghentikan bullyan dari rekan kerja, saya pun diminta untuk lebih serius dalam bekerja dan kalau bisa harus berprestasi. Karena usaha batin tidak akan berarti apa-apa tanpa usaha lahir.

Puji Tuhan, melalui susuk pemikat ditambah dengan prestasi yang saya buat bersama tim, akhirnya atasan mengakui kompetensi yang saya miliki. Secara perlahan rekan sekantor berhenti membully, mereka menjadi lebih perhatian serta berhenti memberikan ejekan terhadap apa yang saya lakukan.

Bahkan, saat ini saya mendapatkan promosi kerja untuk menjadi supervisor. Endrik? Dia pasti sangat menyesal dulu pernah membullyku. Karena sekarang, saya menjadi atasannya. Mohon maaf, saya sama sekali tidak bermaksud sombong.

Terima kasih Ning Asmara. Apabila ada kesempatan, saya sangat ingin bertemu secara langsung dengan Anda untuk mengucapkan terima kasih ini secara langsung.

Aning Dwiananta, 26 tahun, Palembang.

KLIK DISINI – UNTUK MENDAPATKAN SUSUK PEMIKAT